Kamis, 11 April 2013

Stress



Stress
Arti Penting Stress
Pengertian Stress
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain. Stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Sumber stres adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologis nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya .

Efek Stress
- Menaikkan kolesterol dan asam lemak dalam darah untuk sistem produksi energi.
- Menaikkan tekanan darah.
- Iritasi pada daerah tertentu (memerah, bengkak, meradang dan nyeri).
- Menaikkan produksi gula darah untuk energi.
- Menurunkan kekebalan usus dalam mencerna protein sintesis dan sistem respon alergi tubuh.
- Naiknya metabolisme, seperti detak jantung yang semakin cepat, atau pernafasan yang semakin cepat.
- Mempercepat pembekuan darah.
- Menaikkan asam dalam perut (asam lambung).

General Adaption Syndrom dari Hans Selye
Menurut Hans Selye, stres merupakan ketidakmampuan mekanisme tubuh seseorang dalam beradaptasi dengan berbagai macam tuntutan lingkungan. Selye menerangkan bahwa rangkaian perubahan dalam mekanisme tubuh (GAS: General Adaptation Syndrome) tersebut terdiri dari tiga tahapan :
a)  Alarm : individu mulai merasa bahwa ada tuntutan dari lingkungannya sebagai ancaman.
b)  Resistance : mengatur kemampuan diri untuk menghadapi tuntutan, dalam hal ini individu mulai melakukan berbagai coping stres.
c) Exhaustion : jika stres terus berkelanjutan/kronis, individu bisa kehabisan tenaga (kerusakan permanen pada tubuh dan berujung kematian).

Pendapat Selye tersebut berdasarkan hasil eksperimennya kepada sekelompok tikus yang disuntik dengan larutan yang berbeda. Pada kelompok eksperimen, tikus-tikus disuntik dengan ekstrak kimiawi tertentu secara setiap hari sehingga menimbulkan borok dan masalah fisiologis lainnya seperti berhentinya pertumbuhan jaringan sistem kekebalan pada tikus. Pada kelompok kontrol, tikus-tikus hanya disuntikkan air garam yang seharusnya tidak menimbulkan efek apapun ternyata menunjukkan gejala yang sama. Dari eksperimen ini Selye mencermati bahwa bukan substansi cairan yang disuntikkan, tetapi karena penyuntikan setiap hari itu sendiri yang menjadi penyebabnya.
Peneliti lain mengkritik pendapat Selye dengan menyatakan bahwa stres bukan hanya dipandang sebagai reaksi, namun stres juga harus dilihat sebagai fungsi dari individu yang menafsirkan situasi. Reaksi orang tidak sama terhadap stressor yang sama, tergantung bagaimana orang mempersepsikan situasi yang dihadapi karena peta kognitif seseorang berbeda-beda.



Faktor Individual & Sosial Penyebab Stress
Faktor Individual
1. Faktor Biologis. Faktor ini juga terbagi kedalam beberapa tipe,
·         Gen. Keadaan individu pada masa konsepsi dipengaruhi oleh sikap dan perilaku Ibu. Bagaimana ibu berperilaku ketika sedang hamil, dan asupan gizinya apakah sudah terpenuhi atau malah defisiensi. Ketika seorang ibu stress, otomatis bayi yang dikandungnyapun akan ikut stress pula. Dan kebanyakan hal ini tidak disadari oleh si Ibu sehingga pada saat melahirkan Ibu malah menyalahkan proses persalinan ketika anaknya cacat fisik atau cacat mental.
·         Penyakit. Karena mempunyai penyakit langka, sulit disembuhkan bahkan tak ada obatnya, seseorang bisa saja mengakhiri hidupnya pada tali gantungan atau meminum racun. Penyakit yang membuat seseorang merasa tak berguna dan tak mungkin sembuh bisa menjadi sebuah stressor.
·         Tidur. Obat capek yang paling manjur adalah tidur. Ketika porsi tidur seseorang tidak terpenuhi, maka akan terjadi tekanan dalam diri orang tersebut ditandai dengan sensitivitas yang lebih tinggi dari biasa, pusing, sulit beradaftasi dengan lingkungan dan belum menyadari dimana berada. Hal tersebut akan menimbulkan stress baik pada tingkat ringan atau tinggi.
·         Postur tubuh. Kebanyakan, stressor ini menyebabkan perempuan ingin melakukan apa saja untuk mendapatkan postur tubuh yang diinginkan. Jika tidak terpenuhi, maka akan terjadi konflik dan tegangan atau stress.
·         Kelelahan. Faktor ini tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu faktor penyebab stress yang paling utama. Ketika seseorang merasa kelelahan, maka hal yang ingin segera dipenuhi adalah beristirahat. Ketika keinginannya tidak terpenuhi maka akan terjadi tegangan dan menimbulkan efek yang berbahaya.
2. Faktor Psikologis
·         Frustasi. Sudah sangat jelas bahwasannya frustasi adalah penyebab seseorang mengalami stress. Ketika seseorang kecewa dengan apa yang dia dapatkan, atau gagal dalam meraih apa yang diinginkan maka banyak kemungkinan, orang itu akan mengalami  frustasi. Frustasi ditandai dengan menurunnya semangat hidup.
·         Perasaan dan Emosi. Marah, mudah tersinggung, merasa tidak nyaman, merasa tidak aman, sedih, merasa bersalah dan lain-lain adalah contoh perasaan dan emosi yang dapat menimbulkan stress.
·         Pengalaman Hidup. Perpisahan dengan orang yang dicintai adalah stressor dari psikologis yang paling banyak mempengaruhi tingkat kesadaran sesorang. Segala hal yang terjadi dalam kehidupan seseorang yang tidak sesuai dengan yang diinginkan biasanya akan menimbulkan stress.
·         Keputusan Perilaku. Salah mengambil keputusan membuat orang merasa takut dan tak mau lagi menjalani hidupnya. Salah pengambilan keputusan ini menjadi salah satu faktor dari segi psikologis yang dapat menyebabkan seseorang terkena stress.
·         Respon Perlawanan. Ketika seseorang melawan hal yang terjadi namun dia tetap tidak merubah keadaan. Disaat itu, seseorang akan merasa down dan tidak berguna. Stress akan datang pada orang-orang seperti itu.
Faktor Sosial
·         Keluarga. Faktor yang menyebabkan stress dari keluarga misalnya adalah terjadi kesalahan pada pola asuh yang diberikan, broken home, keadaan sosial ekonomi yang tidak sesuai harapan serta adanya tradisi juga filsafat keluarga yang dianggap tidak sejalan dengan filsafat individu.
·         Lingkungan. Peristiwa alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor secara langsung akan membuat seseorang mempunyai tegangan tinggi dalam dirinya, apalagi orang tersebut menjadi korban bencana tersebut. Gaya hidup yang modern juga membuat orang mudah terkena stress.
·         Dunia Kerja. Tugas yang menumpuk yang harus dikumpulkan besok, tugas yang jumlahnya sedikit namun tingkat kesulitannya tinggi, kecelakaan dunia kerja serta kemonotonan pekerjaan adalah stressor yang berasal dari dunia kerja yang mampu membuat orang mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.




Tipe Stress Psikologi
Tekanan
Tekanan timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat
berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi.
Tekanan yang berasal dari luar individu, misalnya orang tua menuntut anaknya
agar disekolah selalu rangking satu, atau istri menuntut uang belanja yang
berlebihan kepada suami.

Frustasi
Frustasi timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral
melintang, misalnya apabila ada perawat puskesmas lulusan SPK bercita-cita
ingin mengikuti D3 AKPER program khusus puskesmas, tetapi tidak diizinkan
oleh istri/suami, tidak punya biaya dan sebagainya. Frustasi ada yang bersifat
intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana
alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran,
perselingkuhan, dan lain-lain).

Konflik
Konflik timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam keinginan, kebutuhan atau tujuan. Ada 3 jenis konflik, yaitu :
·         Approach-approach conflict, terjadi apabila individu harus memilih satu
diantara dua alternatif yang sama-sama disukai, misalnya saja seseorang yang sulit menentukan keputusan diantara dua pilihan karir yang sama-sama
diinginkan. Stres muncul akibat hilangnya kesempatan untuk menikmati
alternatif yang tidak diambil. Jenis konflik ini biasanya sangat mudah dan
cepat diselesaikan.
·         Avoidance-avoidance conflict, terjadi bila individu dihadapkan pada dua
pilihan yang sama-sama tidak disenangi, misalnya wanita muda yang hamil
diluar pernikahan, di satu sisi ia tidak ingin aborsi tapi disisi lain ia belum
mampu secara mental dan finansial untuk membesarkan anaknya nanti.
Konflik jenis ini lebih sulit diputuskan dan memerlukan lebih banyak tenaga
dan waktu untuk menyelesaikannya karena masing-masing alternatif memiliki
konsekuensi yang tidak menyenangkan.
·         Approach-avoidance conflict, merupakan situasi dimana individu merasa
tertarik sekaligus tidak menyukai atau ingin menghindar dari seseorang atau
suatu objek yang sama, misalnya seseorang yang berniat berhenti merokok,
karena khawatir merusak kesehatannya tetapi ia tidak dapat membayangkan
sisa hidupnya kelak tanpa rokok..

Kecemasan
Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang hampir dialami tiap orang dan semua umur yang bisa menyebabkan stress , kecemasan dapat muncul dalam berbagai bentuk  antara lain :
·         Gangguan Panik
·         Gangguan Fobia
·         Gangguan Obsesif Kompulsif
·         Gangguan Stress Pasca Trauma
·         Gangguan Stress Akut
·         Gangguan Kecemasan Umum
·         Gangguan Kecemasan Akibat Kondisi Kesehatan Umum
·         Gangguan Kecemasan Akibat Obat

Symptom – Reducing Response Terhadap Stress
Reducing
Dalam bahasa indonesia reducing itu mengurangi , mungkin maksud reducing dalam hubungannya dengan stress , bagaimana cara kita mengurangi stress yang terjadi , karna stress dapat menurunkan produktivitas dan gangguan-gangguan mental.

Mekanisame Pertahanan Diri
Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Jadi, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri. Istilah mekanisme bukan merupakan istilah yang paling tepat karena menyangkut semacam peralatan mekanik. Istilah tersebut mungkin karena Freud banyak dipengaruhi oleh kecenderungan abad ke-19 yang memandang manusia sebagai mesin yang rumit. Sebenarnya, kita akan membicarakan strategi yang dipelajari individu untuk meminimalkan kecemasan dalam situasi yang tidak dapat mereka tanggulangi secara efektif. Tetapi karena “mekanisme pertahanan diri” masih merupakan istilah terapan yang paling umum maka istilah ini masih akan tetap digunakan. Berikut ini beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu, terutama para remaja yang sedang mengalami pergulatan yang dasyat dalam perkembangannya ke arah kedewasaan. Dari mekanisme pertahanan diri berikut, diantaranya dikemukakan oleh Freud, tetapi beberapa yang lain merupakan hasil pengembangan ahli psikoanalisis lainnya.
·         Represi
·         Supresi
·         Pembentukan Reaksi
·         Fiksasi
·         Regresi
·         Denial
·         Fantasi
·         Mengelak
·         Rasiolnalisasi
·         Proyeksi
·         Intelektualisasi

Strategi Coping Untuk Mengatasi Stress
Setiap manusia pasti mempunyai masalah, dari yang terkecil sampai yang terbesar. Semuanya tergantung akan indvidu yang menjalani. Ada berbagai metode dalam menyelesaikan, menghadapi, menghindari, ataupun meminimalisir suatu masalah, akan tetapi tidak jarang kta menemui seseorang yang takut menghadapi suatu permasalahan dan tidak mencari jalan keluar yang bijak. Jika seorang indivdu salah atau kurang tepat dalam mengcoping suatu permasalahan, maka hasilnyapun akan kurang memuaskan, bahkan dapat menimbulakn gangguan dalam pikiran dan kejiwaannya, seperti depresi, stres dan gila. Coping ini secara bahasa mempunyai makna menanggggulangi, menerima menguasai segala sesuatuyang berangkutan dengan diri kita sendiri. Untuk mengendalikan emosi bisa dilakukan dengan banyak cara, diantaranya dengan model penyesuaian, pengalihan dan coping.
Strategi coping itu sendiri dapat diartikan sebuah cara atau prilaku individu untuk menyelesaikan  suatu permasalahan.sedangkan macam-macam copng itu sendiri menurut Santrock (1996) :
·         Strategi pendekatan (approach strategy)
Yaitu usaha kogntif untuk memahami penyebab stres atau stressor dan  usaha untuk menangani hal tersebut dengan cara menghadapinya
·         Strategi menghindar (avoidance strategy)
Yaitu usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisir stessor yang muncul dalam prilaku dengan cara menghindar dari hal tersebut

Bentuk-bentuk strategi coping yaitu :
·         Perilaku coping yang beorientasi pada masalah (problem focused coping-PFC) yaitu strategi kognitif dalam penanganan stress/ strategi kognitif yang digunakan individu dalam rangka menangani masalahnya.
·         Perilaku coping yang berorientasi pada emosi (emotion focused coping-EFC) yaitu strategi penanganan stress dimana individu  memberikan respon terhadap situasi stress dengan cara emosional.
faktor yang mempengaruhi coping :
·         karakteristik situasional
·         faktor lingkungan
·         faktor personal atau perbedaan individu


Pendekatan Problem Solving Terhadap Stress
Problem Solving
Istilah problem solving sering digunakan dalam berbagai bidangilmu dan memiliki pengertian yang berbeda-beda pula. Tetapi problemsolving dalam matematika memiliki kekhasan tersendiri. Problemsolving dalam matematika adalah proses dimana seorang siswa ataukelompok siswa menerima tantangan yang berhubungan denganpersoalan matematika dimana penyelesaiannya dan caranya tidaklangsung bisa ditentukan dengan mudah dan penyelesaiannyamemerlukan ide matematika. Secara garis besar terdapat tiga macaminterpretasi istilah problem solving dalam pembelajaran matematika,yaitu:
1.problem solving sebagai tujuan (as a goal)
2.problem solving sebagai proses (as a process)
3.problem solving sebagai keterampilan dasar (as a basic skill)

Bagaimana Meningkatkan Toleransi Stress dan Berorientasi Pada Tugas
Seringkali menimbulkan reaksi lebih stres dan psikosomatik: ruam berbagai
pada kulit, sakit kepala, nyeri sendi dan nyeri otot, gastritis, ulkus, gangguan pencernaan
dan melemahnya umum imunitas. Cobalah beberapa diusulkan di sini
tips dan mengajari tubuh Anda untuk melakukan tanpa obat penenang, stimulan,
kafein dan rokok. # Dengarkan tubuh Anda. Cobalah untuk memulai
paginya berkonsentrasi pada memperbaiki keadaan kesehatan dan perasaan dalam tubuh. Bertanya
diri sendiri: "Apa yang harus tubuh saya hari ini", "? mana ada daerah ketegangan"
"Apakah saya memiliki banyak usaha dan energi?", "Apa yang saya perlu merasa
keberanian? ". Cobalah untuk menjaga dialog sesering mungkin dan, jika mungkin
melakukan sesuatu yang membutuhkan tubuh Anda. Misalnya, pergi tidur lebih awal dan minum
kurang kopi atau makan lebih banyak buah. # Mengisi dosis vitamin D, karena
ini adalah antioksidan terbaik, yang melindungi kita dari kanker, osteoporosis,
multiple sclerosis dan diabetes. Cara termudah untuk memperkaya diri sendiri dengan vitamin
D - ini adalah berjemur. Dan pada vitamin yang sangat baik dingin dan mendung
Selain itu adalah penggunaan ikan berminyak seperti halibut, salmon, sarden,
makarel, mackerel dan ikan trout. # Belajarlah untuk memaafkan. Meskipun kesederhanaan ini
pernyataan, banyak ilmuwan setuju tentang manfaat pengampunan. Membenci
pada orang, kita kembali ke bagian primitif otak (salah satu yang dan
reptil), dan yang memprovokasi kita untuk reaksi jenis lari atau menyerang.
Jadi kita menjaga tubuh dan pikiran kita dalam stres yang konstan, yang kemudian
mempengaruhi kesehatan kita. # Lebih Anda berjalan, berlari, berenang,
melompat di trampolin (Anda dapat membeli trampolin kecil) dan sebagainya.
Bahkan latihan fisik yang paling dasar meningkatkan tingkat norepinorfina
di otak, suatu zat yang membantu kita untuk lebih menahan stres. Praktek #
yoga, meditasi, tai chi, atau latihan pernapasan. Praktek kuno ini
berkontribusi pada pencapaian keseimbangan antara tubuh dan pikiran, memperlambat denyut jantung,
pernapasan dan relaksasi otot yang mendalam. Mulai kecil: lima bermeditasi
menit sehari, sebelum tidur dan setelah bangun. Sebuah hasil positif akan
Anda energi untuk latihan lagi. # Mengurangi jumlah cookie,
kue dan karbohidrat lainnya, disusun dengan menggunakan dimurnikan
gula dan tepung putih. Makanan seperti meningkatkan hormon kortisol atau
stres dalam tubuh. Produk yang berkontribusi pada hormon
Saldo mengandung omega-3 (salmon, herring, mackerel, halibut, sarden, biji
rami) dan vitamin B5 (kubis, brokoli, produk gandum, telur).
# Belajarlah untuk mengatakan tidak. Jika Anda ingin istirahat dari minggu yang sibuk,
dan teman-teman Anda menyeret Anda ke pesta, atau tetangga yang bosan dan ingin ngobrol
kemudian belajar bagaimana untuk menolak kegiatan yang tidak diinginkan, dan Anda melakukan apa yang Anda inginkan
Anda. Sejumlah besar kasus, komunikasi terlalu banyak kentara meningkatkan
stres dan tidak memberikan kesempatan untuk tinggal bersamanya saja. # Sering gilirannya
komputer dan TV dan hanya berjalan-jalan atau praktek tai chi atau studi
masak masakan baru, atau hanya menghabiskan waktu bersama keluarganya. # Dengarkan
musik santai atau klasik, suara ombak, burung-burung bernyanyi, mengoceh sungai
atau suara hujan. # Carilah hobi atau bentuk tenaga kerja manual, apakah
bordir, lukisan, fotografi atau menggambar rangkaian bunga. Seperti
penelitian mengungkapkan kreativitas kita dan membantu untuk meringankan stres.




Sumber :














Jumat, 08 Maret 2013

Penyesuaian Diri & Pertumbuhan Personal


Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain. Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional. Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
Penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat  ( lifelong process ), dan manusia terus-menerus berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat. Respon penyesuaian, baik atau buruk secara sederhana dapat dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi – kondisi keseimbangan yang lebih wajar. Penyesuaian adalah sebagai suatu proses ke-arah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, dan frustasi, dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari ketegangan. Individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.

Menurut Lazarus (1991) ketika seseorang berpikir tentang cara apa yang akan digunakannya, kondisi-kondisi apa yang dapat mempengaruhi kegitan penyesuaian diri dan konsekuensi apa yang akan timbul dari cara penyesuaian diri yang dipilihnya, maka penyesuaian diri disini adalah proses. Penyesuaian diri adalah suatu proses yang kelanjutan selama hidup manusia (Harber & Runyon 1984), kehidupan manusia selalu merubah tujuannya seiring dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan. Kesimpulan dari proses penyesuaian diri menurut dua tokoh diatas adalah proses yang dilakukan manusia yang dipengaruhi oleh dorongan internal dan eksternal yang dapat berubah-ubah sesuai dengan tujuan hidup yang terjadi pada lingkungannya.

Kartono (2000:270) mengungkapkan aspek-aspek penyesuaian diri yang meliputi:
  • ·         Memiliki perasaan afeksi yang adekuat, harmonis dan seimbang, sehingga merasa aman, baik budi pekertinya dan mampu bersikap hati-hati.
  • ·         Memiliki kepribadian yang matang dan terintegrasi baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, mempunyai sikap tanggung jawab, berfikir dengan menggunakan rasio, mempunyai kemampuanuntuk memahami dan mengontrol diri sendiri.
  • ·         Mempunyai relasi sosial yang memuaskan ditandai dengan kemampuan untuk bersosialisasi dengan baik dan ikut berpartisipasi dalam kelompok.)
  • ·         Mempunyai struktur sistem syaraf yang sehat dan memiliki kekenyalan (daya lenting) psikis untuk mengadakan adaptasi.


Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek penyesuaian diri adalah sebagai berikut :

Penyesuaian pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.

Penyesuaian pribadi merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya, sehingga ia mampu mengatasi konflik dan tekanan dan menjadi pribadi yang matang, bertanggung jawab dan mampu mengontrol diri sendiri. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.
Adapun indikator-indikator secara rinci dari penyesuaian pribadi adalah sebagai berikut :
  • ·         Penerimaan individu terhadap diri sendiri
  • ·         Mampu menerima kenyataan
  • ·         Mampu mengontrol diri sendiri
  • ·         Mampu mengarahkan diri sendiri

Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa,  atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.
Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.

 Penyesuaian sosial
Penyesuaian sosial merupakan kemampuan individu untuk mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada, sehingga ia mampu menjalin relasi sosial dengan baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam penelitian ini penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat remaja hidup dan berinteraksi yaitu panti asuhan, baik dengan pengasuh maupun teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Sedangkan indikator-indikator untuk penyesuaian social adalah :
·         Memiliki hubungan interpersonal yang baik
·         Memiliki simpati pada orang lain
·         Mampu menghargai orang lain
·         Ikut berpartisipasi dalam kelompok
·         Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada
Setiap iindividu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling  mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari.  Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara  komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.
Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok.  Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.
Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.


Pertumbuhan Personal

Manusia merupakan mahluk individu .Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan – peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya , melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya . Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk , akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian , dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga.Hal ini disebabkan karna keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga tetapi dalam lingkungan masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga yang mempengaruhi pertumbuhan individu.
Dengan adanya naluri yang dimiliki suatu individu , dimana ketika dapat melihat lingkungan disekitarnya maka secara tidak langsung individu akan menilai hal-hal disekitarnya apa hal itu benar atau tidak,dan ketika suatu individu berada didalam masyarakat yang memiliki suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut dijalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian , misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang disiplin yang menerapkan aturan-aturan yang tegas maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga , semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang religius makan individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang religius. Terjadinya perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karna pengaruh baik dari pengalaman atau empire luar melalui panca indra yang menimbulkan pengalaman dalam mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflexions.
Faktor yang mempengaruh pertumbuhan individu :
1.      Faktor Biologis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti tangan , kaki , kepala dan lain-lain. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan dalam kepribadian dan prilaku . Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus , artinya setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik fisik yang sama.
2.      Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya sehingga meyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan menimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga , namun jika lingkungan fisikinya kurang baik dan tidak ada hubungan baik dengan individu lain maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3.      Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan kebudayaan dapat dipengaruhi kepribadian anggotanya , namu tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat  yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga


SUMBER :



Teori kepribadian Aliran Psikoanalisa , Behaviouristik & Humanistik


Teori Kepribadian Sehat Aliran Psikoanalisa

Psikoanalisis ditemukan di Vienna, Austria, oleh psikiatris Sigmund Freud (1856-1938). Freud mengembangkan teori perilaku dan pikiran mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan pikirkan hasil dari keinginan atau dorongan mencari pemunculan dalam perilaku dan pikiran. Titik penting dari keinginan dan dorongan ini adalah bahwa mereka bersembunyi dari kesadaran individual, dengan kata lain, mereka tidak disadari. Ini adalah ekspresi dorongan tidak sadara yang muncul dalam perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari” / (unsconcious motivation) menguraikan ide kunci dari psikoanalisa. Teknik-teknik psikoanalisis dan penerapan psikologi freud yang sangat luas dalam ilmu pengetahuan social, kesenian dan humaniora.
Menurut teori kepribadian psikoanalisis freud berteori bahwa kepribadian tersusun dari 3 sistem pokok yakni id, ego dan superego. Id merupakan system kepribadian yang asli. Id merupakan segala sesuatu yang diwariskan dari lahir, termasuk insting-insting. Ego merupakan kebutuhan-kebutuhan yang timbul karenma organism memerlukan transaksi yang sesuai dengan kenyataan, sedangkan superego merupakan perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat sebagaimana diterangkan kepada orangtua kepada anak, dan dilaksanakan dengan cara memberinya hadiah atau hukuman. Tetapi dengan adanya superego tersebut isu bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental. Kenapa begitu karena apabila superego jauh lebih dominan keinginan orangtua dari pada keinginan anak, maka anak tersebut dapat menjadi agresif karena sifat yang telah ditanamkan oleh orang tuanya tersebut. Freud (1930) berteori bahwa manusia lahir dengan memiliki insting (instinct) untuk hidup yang disebut Eros, dan juga insting untuk mati yang disebut Thanatos. Thanatos ini yang mendorong tindakan-tindakan agresi. Freud meyakini bahwa energy agresif harus disalurkan. Pernyataannya Freud mengenai hal ini disebut sebagai ‚teori hidrolik (hydraulic theory)‛ yang analog dengan keadaan air yang tertekan dan meluap ke atas di dalam suatu tempat: Bila tidak ada pelepasan energy maka akan terjadi suatu ledakan (eksplosi).
Menurut Freud, masyarakat memiliki fungsi untuk meregulasi insting mati dan membantu orang-orang menyublimasikan-nya, sehingga energi agresif berubah menjadi perilaku yang dapat diterima atau bermanfaat. Misalnya, Freud yakin bahwa di balik kreasi artistik atau inovatif adalah sublimasi (perubahan wujud) dari energi agresif (atau seksual).

Teori Kepribadian Sehat Aliran Behaviouristik

Di prakarsai oleh John B Watson (1879-19580 yang lama di universitas  John Hopkins.) Watson menolak bahwa pikiran sebagai subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokilogi dibatasi pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat di observasi.
Aliran perilaku mempunyai 3 ciri penting :
·         Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen-elemen atau bangunan perilaku
·         Menekankan pada perilaku yang dipelajari daripada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme kecenderungan menolak perilaku bawaan
·         Difokuskan pada perilaku binatang. Tidak ada perbedaan esensial antara perilaku manusia dan perilaku binatang dan bahwa kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.
Kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang dapat mempelajari sifat dan perilaku dari mana saja baik dari sesama manusia maupun binatang sendiri, tapi kita juga dapat memilih yang mana yang baik dan yang mana yang tidak.

Teori Kepribadian Sehat Aliran Humanistik

Humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran humanisme.
Beberapa psikolog pada waktu yang sama tidak menyukai uraian aliran psikodinamika dan behaviouristik tentang kepribadian. Mereka merasa bahwa teori-teori ini mengabaikan kualitas yang menjadikan manusia itu berbeda dari binatang, seperti misalnya mengupayakan dengan keras untuk menguasai diri dan merealisasi diri. Di tahun 1950-an, beberapa psikolog aliran ini mendirikan sekolah psikologi yang disebut dengan humanisme.
Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka cenderung untuk berpegang pada prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

Sumber :